Neo-Indonesiana. Gerakan ide & frasa baru di Nusantara, Part 1 / Awal.

Ini adalah catatan, gagasan apa yang ada di pikiran dan menjadi sebuah Awal ideologi baru tentang Indonesian Creative & Cultural Consciousness.

Sebelum memulai membaca, mungkin bisa coba sambil memutar ini lagu agar semangat dan frekuensinya agak dipersatukan.

Sebenarnya gagasan ini sudah dipikirkan sejak satu tahun (2019) setelah kami memprakarsai Projek AGNI. Perajin Penjenamaan yang didasari oleh Ideologi, Perancangan, dan Budaya untuk berbagai macam entitas Niaga, Sosial, Seni, yang terinspirasi dari nilai masa lampau, kini, dan nanti.

Nantinya pemikiran ini akan menjadi banyak, bercabang. Karena kami ingin mengulas semua aspek, sektor atau industri yang sedang bergerak berjuang bersama.

Disadari atau tidak, terkuantifikasi atau tidak. Hanya terasa, semakin banyak komunitas, organisasi, gerakan, yang menyadari (conscious)nilai lokalitas lama yang dimiliki oleh Negeri Zamrud Khatulistiwa ini menjadi spirit baru dewasa ini. Baik di lingkungan urban atau rural, lumayan egaliter dan lumayan merata. Mungkin salah satunya karena berkat yang diwarisi oleh teknologi dan media sosial.

Tapi bagaimanapun, awal dekade baru ini belum teridentifikasi, meskipun rekan-rekan kami yang tergabung dalam Indonesia Trend Forecast oleh Bekraf.

Lalu apa yang menjadikan dasar bahwa generasi atau beberapa dekade belakang dan kedepan akan semakin seru? Berikut sedikit kutipan dari wawancara Dr.Muhammad Faisal dengan Good News From Indonesia tahun ini:

“Milenial sekarang mulai tertarik pada kecenderungan literasi yang mana hal itu berlawanan dengan sosial media yang semakin digital. Banyak pula ruang kolektif yang menjadi perkumpulan untuk menggali potensi dan bakat anak muda.

Ketika sebuah benih ditanamkan di tanah, benih itu akan memanjangkan akarnya ke bawah sebelum menjulang secara vertikal ke atas.

Maka, sebelum anak muda menghasilkan sebuah karya, masuk ke ruang publik, masuk ke masyarakat, berkreasi, dan menjadi pemimpin, generasi muda haruslah memiliki akar yang kuat ke bawah dengan harapan akan menjadi generasi yang menguatkan dirinya dan Indonesia.” — Dr.Muhammad Faisal, GNFI, 2020.

Pernah kami berdiskusi dengan seorang chef dan antropolog sejarah saat ada kegiatan perayaan rempah di Selasar Sunaryo sekitar tahun 2017–2018, (agak lupa nanti dicari dulu di album), beliau bernama Wira Hardiyansyah.

Tidak ada kebudayaan asli Indonesia, setidaknya yang bisa kita ingat, besar pengaruhnya disingkat menjadi: A.C.E.H, yaitu:

Arab — Islam Influences

China — Peranakan Influences

Europe — Colonial Influences

Hindia — Beliefs & Aksara Influences

And we have also Aboriginal influence from Papua, Mollucas dan sekitarnya.

Mari kita maknai kembali konsep awal Bhinneka Tunggal Ika dibentuk.

Kutipan pupuh 139, bait 5, Sutasoma:

Rwāneka dhātu winuwus Buddha Wiswa,
Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen,
Mangka ng Jinatwa kalawan Śiwatatwa tunggal,
Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.

Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda.
Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa dikenali?
Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal
Terpecah belahlah itu, tetapi satu jugalah itu. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran.

It is said that Buddha and Shiva are two different substances.
They are different, but how can they be identified?
Because the truth of Jina (Buddha) and Shiva are one, and it is divided, but it is also one. There is no confusion in the truth.

Maka dari itu percaya, bahwa Indonesia, atau Nusantara bukan hanya sekedar Negara Agraris atau Maritim, tapi kami hidup di dalam portal peradaban antara banyak budaya. Dari garis ekuator hingga dua samudera, suatu hal yang mengaggumkan.

Disimpulkan juga dalam buku Desain & Kebudayaan oleh Widagdo, yang dibaca di tahun 2012, diterbitkan di awal dekade tahun 2000. Kami menemukan pencerahan, bahwa desain, sebagai produk kebudayaan hasil dari dinamika sosial, teknologi, ekonomi, kepercayaan, perilaku, dan nilai-nilai tangible dan intangible yang ada di masyarakat dalam kurun waktu tertentu adalah sebuah cerita yang diturunkan turun-temurun. Dan inilah, titik awal, perjuangan yang harus kita lanjutkan bersama. Nilai Budaya yang kaya, tak akan ada habisnya untuk keberlanjutan artefak untuk di masa yang akan datang (Widagdo, 2000.)

Dalam teori Karl Jaspers mengenai Zaman Poros / Axial Age .

Kita akan menghadapi garis atas setelah Kebudayaan Global. Namun dengan konteks, elemen dan akar dari hal-hal Lokal.

Locally Owned, Globally Grown!

Dari situ ada urgensi menggelitik, suatu calling untuk mengejawantahkan khazanah ini dalam hal yang lebih konkret.

Kami rasa sudah saatnya kita mendefinisikan pergerakan ini dengan tajuk:

Neo-Indonesiana.

Suatu frasa, ideologi atau gaya baru yang dimanifestasikan oleh kekayaan Seni dan Budaya Nusantara dari nilai lampau, dalam konteks kontemporer dan untuk preservasi identitas di masa yang akan datang.

Mengapa kami inisiasi dengan sebutan Neo-Indonesiana ?

Lebih baik kita bedah dulu dari sisi semantik-nya.

Terinspirasi berdasarkan Majapahit, sebagaimana disebutkan dalam kitab Pararaton yang ditulis sekitar dua abad setelah masa kejayaan kerajaan Majapahit itu, “Nusăntara” tentunya berarti “keseluruhan nusa” (yaitu tempat-tempat yang harus dicapai melalui laut — Singhasari & Majapahit) yang berada di dalam cakupan pengaruh kekuasaan kerajaan tersebut.

Adapun konteks Republik Indonesia, “nusantara” adalah seluruh pulau (dengan aneka kebudayaannya yang termasuk dalam kedaulatan R.I. Termasuk ke dalam pengertian itu adalah banyaknya suku bangsa dengan kebudayaannya masing-masing. Jadi, bila tidak mengesampingkan aspek struktur politik kenegaraannya, maka, antara zaman Majapahit dan Republik Indonesia tampaknya tidak banyak mempunyai perbedaan, tapi justru persamaan dari kedua zaman teresebut adalah menjunjung nilai Persatuan (Sedyawati, 2014:57).

Maka dari persatuan, akulturasi budaya yang terjadi sebelum, saat dan sesudah Zaman kejayaan Majapahit adalah Indonesia. Nama “Indonesia” pertama kali muncul di tahun 1850, di sebuah majalah ilmiah tahunan, Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA), yang terbit di Singapura. Penemunya adalah dua orang Inggris: James Richardson Logan dan George Samuel Windsor Earl.

Sedang dalam konteks kata Neo — Adalah pembaharuan. “Neue” dengan makna: Baru.

Indonesia yang Baru, Indonesia yang Maju. Terbaharukan secara berkesinambungan dan lestari (sustainable).

Kemudian makna dan arti setiap kata diambil dari KBBI dari:

Sebuah gerakan ide & frasa baru di Nusantara.

Gerakan: pergerakan, usaha, atau kegiatan dalam lapangan sosial (politik dan sebagainya);

Ide: Rancangan yang tersusun di dalam pikiran; gagasan; cita-cita; perasaan yang benar-benar menyelimuti pikiran;

Frasa: Suatu gabungan kata nonpredikatif. Kami memaknainya sebagai suatu Penggayaan dan narasi dalam konteksnya di sini;

Baru: Kata baru disini bukan hanya mengenai keterangan waktu, atau kondisi. Tapi juga mengenai pembaruan, terbarukan, membarukan. Interpretasinya secara luas dan jauh.

Nusantara: Nah disinilah baru kita menggunakan kata Nusa dan Antara. Semangat persatuan di seluruh Archipelago.

Our Indonesian Ideology & Style Empirical Timeline by Reyhan Salsabil

Ternyata apa yang kami lakukan juga saling berkesinambungan secara langsung maupun tidak, dalam dekade ini. Elemen nilai budaya banyak digunakan, dipahami dan diamini oleh para akademisi maupun pebisnis.

Contohnya, berikut makalah yang dikaryakan oleh teman-teman Magister FSRD ITB 2020 untuk tugas UAS Teori Desain II oleh Yosephine S. Batubara dan rekan lainnya, berjudul:

PENGARUH POSTMODERNISM DALAM KARYA DESAIN PROJEK AGNI TERKAIT DENGAN PERILAKU PENGGUNA, LINGKUNGAN, DAN TRADISI LOKAL.

Sila untuk dibaca dan diresapi.

Dari makalah tersebut, kami menyimpulkan semua akulturasi kuno dan kini menjadi pijakan inovasi yang akan dikembangkan kedepan.

Perkembangan semangat zaman ini kami harap dapat memberikan suatu momen transisi besar bagi aspek proses kreatif Indonesia dalam konteks lampau, kini dan nanti.

Berikut beberapa inspirasi besar dalam pembentukan gaya Neo-Indonesiana, dari perspektif kami:

Guruh Gipsy — Chopin Larung

Guruh Soekarno Putra, seperti yang kita tahu, seorang maestro putra dari Bung Besar yang mungkin, satu-satunya paling peduli dengan Seni Budaya di Indonesia. Meskipun, kami tahu betul, banyak sekali seniman, budayawan perupa dan sosok-sosok yang hebat juga.

Tapi, bila kita kilas balik lebih jauh lagi pastinya kita harus memikirkan Pita Maha, kemudian berbicara mengenai Decenta yang didirikan oleh Adriaan Palar, G. Sidharta, dan A. D. Pirous, biro desain ini dipercaya menggarap elemen estetik gedung Convention Hall pada 1973 di Jakarta. Untuk mengeksekusi proyek itu, T. Sutanto, Sunaryo, dan Priyanto Sunarto pun direkrut. — DGI, 2016.

Kehidupan Keraton Jawa pada Zaman Borobudur (1930) — Walter Spies

Berangkat ke abad selanjutnya, diantara transisi modernisme dan post-modernisme.

Dalam dekade 80-an, gerakan baru juga diprakarsai oleh “New Art Movement Project 1-Pasaraya Dunia Fantasi” pada tahun 1987. Suatu pameran yang meredefinisi Seni Rupa Post-Modern di Indonesia.

Para seniman yang terlibat dalam pergerakan ini adalah :
Jim Supangkat
, Dadang Christanto , FX Harsono , Dede Eri Supria , Bernice , Gendut Riyanto , Priyanto Sunarto , Harris Purnama , Wienardi , Siti Adiyati Subangun , Oentarto H. , Taufan S Ch , Sanento Yuliman , Rudi Indonesia , Fendi Siregar Seni Rupa Baru (Gerakan Seni Rupa Baru/GSRB).

Dari situ, masuklah kita kedalam Era 90-an. Websites Bubble, interkoneksi informasi yang baru di mulai. Era internet awal.

Membahas Rancang Grafis di era ini, tak bisa lepas pastinya dari Leboye, salah satu inspirasi terbesar, kami tidak pernah atau dijodohkan untuk berkarya disana, tapi sosok, tempat energi dari Bapak Hermawan Tanzil menjadi salah satu mercusuar awal mengusung pergerakan ini. Dari 2010 hingga kini, berasal dari Majalah desain yang kini sudah jarang, Concept dan Versus.

Leboye Design — Brand Expression
Setan Jawa, Magical Realism Movie from Garin Nugroho (2017)

Setan Jawa touches on many different topics like colonialism, magical realism, pesugihan (making a deal with the devil to fulfill one’s desires) and sensuality, which are brought to life by the phenomenal actors — many of whom are also professional dancers — through mere facial expressions and physical movements. — Jakarta Post

Magis, mistis, adalah hal yang tak bisa dipisahkan dari kehidupan Masyarakat Nusantara. Pelbagai paham, believes untuk mencari hal tertinggi dalam kesadaran spiritual melalui banyak sinkretisme ajaran adalah salah satu Nilai Budaya yang tak ada habisnya untuk dibahas dan menjadi inspirasi besar dalam arah baru karya Bangsa.

Is it even possible to speak about the beliefs and customs of diverse peoples who inhabit the over 18,000 islands of Indonesia as existing within a single mythological universe? Can one make meaningful comparisons between, say, the Batak Tor-tor dance and the Gandrung dances of the Sasak & Banyuwangi peoples? How can Balinese Hinduism, for instance, be reconciled with the animistic beliefs of Dayak people? Indeed, within any given Indonesian cultural grouping one can find trances of several competing ideological frames — A mixture of Animism, Hinduism, Buddhism, Christianity and Islam. — Joseph Campbell Foundation.

“When It Shook The Earth Stood Still” by Zico Albaiquni

While delving into Indonesian art history, Zico’s works are not devoid of the current sociopolitical events that have shaped Indonesia today. — Jakarta Post.

Khusus untuk segmen inspirasi ini akan kami buat serial berikutnya, lebih beragam lebih mendetail.

Maka, mari Puan dan Tuan! Kita rayakan kekayaan Seni & Budaya Indonesia yang sangat kaya ini!

Dari Sabang hingga Merauke, dari Tenda Nasi Pecel hingga Pelataran Kerajaan, dari Gamelan hingga Techno dan Rave, di semua sudut ruang dan waktu.

Cintai, Maknai, Prakarsai, Manifestasikan!

p.s: Kami akan terus mengulas, bahkan memajukan energi pembaharuan & kebangkitan ini. Gagasan ini akan terbagi menjadi 3 bagian.

  1. Awal
  2. Manifestasi
  3. Visi

Yang didalamnya akan menampilkan lebih banyak hasil karya-karya dengan Gaya #NeoIndonesiana pilihan kami. Dapat terkategorisasi dari disiplin, industri, atau yang pas saja, antara lain:

  1. Inspirasi Budaya Vernakular (Praktikal) & Nilai Adiluhung (Spiritual);
  2. Entitas Indrawi (sight, smell, taste, hear, touch);
  3. Penjênamaan (brand).

Sampai Jumpa! Salam Rahayu,

Energi api, Ring of Fire, semangat peradaban.

Dari kami, dari hati, keluarga AGNI. 🔥

Indonesia, Dua Puluh Tujuh Dua Ribu Dua Puluh pukul Tujuh.

Disclaimer:
This is another personal opinion backed with some data and lo-fi research methods. If there’s a chance of this article / essay can be upgraded into scientific and academic one, please help us out!he

This idea & opinion doesn’t relate to TEMPO’s group https://www.indonesiana.id/ .

Mari bangun bersama gerakan ini. Bila ada pertanyaan, sanggahan, umpatan, masukan jangan ragu surel saja: kresna@projek-agni.id.

Sebelum, saat atau sesudah baca, bolehlah mampir untuk mendengarkan dendang elok dari berbagai daerah lampau dan kini di playlist berikut:

Terima kasih sebanyak-banyaknya untuk semua tim Projek AGNI yang membantu menyusun Gagasan ini:

Rahadian Bima Saprilla, Kevin Davia, Sekar Jatiningrum, Salsabilla Audinna, Larissa Atmawati, Zidan Alfarizy Tangka, Nadya Rosalia, Reyhan Salsabil, Wisnu Adhi Kusuma, UV, Jasmine Ansori, Adam Zelig Mahadika dan lainnya.

Dan teruntuk Dani Huda, yang menggerakan inisiasi ini. Semua energi tertampi :)

Sumber Pustaka

Moerdowo, dr, 1963. Reflections on Indonesian Arts and Culture. Surabaya: Permata Publishing House

Haks, Leo, et. al. 1995. Lexicon of Foreign Artists who Visualized Indonesia [1600–1950]. Singapore: Archipelago Press.

Widagdo, 2000. Desain dan Kebudayaan. Bandung: Penerbit ITB.

Sedyawati, Edi, 2014. Kebudayaan di Nusantara. Dari Keris, Tor-tor sampai Industri Budaya. Jakarta: Komunitas Bambu.

Carpenter, W. Bruce, 2015. Indonesian Tribal Arts. Singapore: The Rodger Dashow Collection.

Kardinata, Hanny, 2015. Desain Grafis Indonesia dalam Pusaran Desain Grafis Dunia 1, Catatan, Koleksi, Arsip Jakarta: DGI Press.

Faisal, Muhammad, Dr, 2019. Generasi Kembali ke Akar. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

http://indonesiabaik.id/infografis/asal-mula-nama-indonesia#:~:text=Nama%20%E2%80%9CIndonesia%E2%80%9D%20pertamakali%20muncul%20di,dan%20George%20Samuel%20Windsor%20Earl.

Insights & knowledge from around the Archipelago and globe about Culture, Ideas, Visions. Initated by Projek AGNI. #IdeologyDesignCulture

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store